October 20, 2020
Pandangan Tentang Kesehatan Mental Remaja Di Masa Pandemi Dan Era Globalisasi

Pandangan Tentang Kesehatan Mental Remaja Di Masa Pandemi Dan Era Globalisasi

Pandangan tentang kesehatan mental remaja di masa pandemi dan era globalisasi. Wabah pandemi corona tak pelak berdampak pada kehidupan sosial remaja. Dengan kebijakan belajar dari rumah dan dibatalkannya berbagai acara, banyak remaja kehilangan beberapa momen besar dan momen keseharian seperti mengobrol dengan teman dan berpartisipasi di kelas. Ada banyak remaja merasa cemas, terisolasi, dan kecewa karena wabah pandemi. Unicef Indonesia berbincang dengan psikolog remaja, penulis best seller, dan kolumnis bulanan New York Times terkait perawatan diri dan menjaga kesehatan mental.

Berikut cara merawat diri dan menjaga kesehatan mental seperti dirangkum dari Unicef Indonesia. Sadari bahwa perasaan cemas berlebihan adalah hal yang wajar contoh ketiak kita mau mendaftarkan sekolah yang favorit, ketika membaca judul-judul di media yang membuat diri kita merasa cemas, kamu tidak sendirian. Malah, itu adalah hal yang sudah seharusnya kamu rasakan.

Para psikolog sudah lama menyadari bahwa kecemasan adalah fungsi normal dan sehat yang bisa membuat kita waspada terhadap ancaman, dan membantu kita untuk mengambil tindakan untuk melindungi diri.

Menurutnya, masalah kesehatan mental remaja di era globalisasi akan membantu mengambil keputusan yang harus dlakukan seperti tak menghabiskan waktu bersama orang lain atau dalam kelompok besar, mencuci tangan dan tak menyentuh wajah. Perasaan cemas tak hanya membantu menjaga diri sendiri, tapi juga orang lain. Dampak ini mencerminkan individu bisa ikut menjaga orang lain di sekitar kita dan anggota masyarakat lainnya.

Merasa cemas mengenai COVID-19 memang hal yang benar-benar bisa dimengerti. Namun, kamu bisa mencari seperti UNICEF atau WHOketika mencari informasi. “Atau cek kembali informasi yang kamu dapatkan apakah berasal dari saluran yang kurang bisa diandalkan reliabilitasnya,” ujar Dr. Damour. Jika kamu merasa mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan COVID-19, segera bicara dengan orang tuamu.

“Ingat bahwa penyakit akibat infeksi COVID-19 itu pada umumnya ringan, terutama pada anak-anak dan remaja,” kata Dr. Damour. Penting juga untuk diingat, bahwa banyak gejala COVID-19 yang bisa diobati. Ia menyarankan untuk memberi tahu orang tua atau orang dewasa yang terpercaya jika kamu merasa tidak enak badan atau merasa khawatir tentang virus, agar mereka bisa membantu. Kondisi inilah sebagai gangguan kesehatan mental remaja di era globalisasi pandemi saat ini.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga agar diri kita dan orang lain tetap aman dan merasa lebih bisa mengendalikan keadaan kita yaitu :

Sesering mungkin mencuci tangan, jangan menyentuh wajah, dan melakukan social distancing atau pembatasan sosial,” tambahnya.

cuci tangan lakukan untuk menjaga agar diri kita selalu bersihCari pengalihan “Menurut para psikolog, ketika kita berada dalam kondisi yang sangat sulit, akan sangat membantu untuk mengenali masalah menjadi dua kategori: Hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan,” kata Dr. damour. Saat ini, ada banyak hal yang tak bisa dikendalikan. Sebenarnya, kondisi tersebut tidak terlalu bermasalah. Namun, satu hal yang bisa membantu kita untuk menghadapi situasi tersebut adalah dengan mencari pengalihan untuk kita sendiri. Kamu bisa mengerjakan pekerjaan rumah, menonton film kesukaan, atau membaca novel sebelum tidur. Kami bisa menjadikan kegiatan itu untuk mencari pelampiasan dan menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kesehatan Mental Remaja Di Masa Pandemi Dan Era GlobalisasiTemukan cara baru untuk berkomunikasi dengan teman-temanmu Jika kamu ingin bersosialisasi dengan teman di tengah kondisi social distancing, media sosial adalah solusi yang bagus untuk berkomunikasi. Salurkan kreativitasmu: Ikuti Tik-Tok Challenge seperti #safehands, #dirumahaja, dan lain-lain. “Saya tidak akan pernah meremehkan kreativitas remaja, Menurut saya, remaja akan menemukan cara untuk [terhubung] dengan satu sama lain secara online melalui cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.” kata Dr. Damour. “ Tetapi memiliki akses tanpa batas ke layar kaca atau media sosial itu bukan hal yang bagus. Itu hal yang tidak sehat dan tidak cerdas, dan bahkan bisa menambah rasa cemasmu,” kata Dr. Damour. Ia merekomendasikan agar kamu berdiskusi dengan orangtua untuk mengatur jadwal menonton televisi dan bermain gawai.

Fokuslah pada dirimu Pernahkah kamu berniat untuk belajar hal baru, membaca buku baru, atau belajar cara memainkan alat musik tertentu? Sekarang lah saatnya untuk melaksanakannya. Fokus pada diri sendiri dan mencari cara untuk memanfaatkan waktu tambahan yang kamu dapatkan adalah cara yang produktif untuk menjaga kesehatanmu. “Saya sendiri sudah membuat daftar buku-buku yang ingin saya baca dan hal-hal yang dari dulu sudah ingin saya lakukan,” kata Dr. Damour. “Kalau sudah bicara tentang perasaan yang menyakitkan, satu-satunya jalan keluar adalah berusaha melaluinya,” ujarnya.

Selami perasaanmu Kehilangan kesempatan untuk mengikuti acara-acara dengan teman, acara untuk menyalurkan hobi, atau pertandingan olahraga, adalah hal yang sangat mengecewakan. “Ini adalah kehilangan dengan skala besar dan menjengkelkan, dan wajar untuk dirasakan oleh remaja,” kata Dr. Damour. Cara terbaik untuk mengatasi kekecewaan ini? Biarkan dirimu merasakan kekecewaan. “Kalau soal mengalami perasaan yang menyakitkan, satu-satunya jalan keluar adalah berusaha melaluinya. Lanjutkan hidupmu dan jika merasa sedih, selami perasaanmu. Jika kamu bisa membiarkan dirimu merasa sedih, akan lebih cepat pula kamu merasa lebih baik,” ujar Dr. Damour. Setiap orang punya cara berbeda untuk mengolah perasaan. Beberapa anak akan menyalurkannya untuk menjaga kesehatan mental remaja milenial yaitu dengan  membuat karya seni, beberapa anak memilih berbicara dengan teman-teman mereka dan menggunakan kesedihan yang dirasakan bersama sebagai cara untuk merasa terhubung di tengah situasi keteka mereka tidak bisa bertemu secara fisik. Sementara beberapa anak memilih untuk mencari cara untuk berdonasi makanan. Yang penting adalah kamu melakukan hal yang terasa benar bagimu,” kata Dr. Damour.

Berbaik hatilah pada diri sendiri dan orang lain Beberapa remaja mengalami bullying dan pelecehan di sekolah karena corona. “Menjadi bystander yang aktif (pembela) adalah cara terbaik untuk menghadapi segala jenis bullying,” kata Dr. Damour. “Anak-anak dan remaja yang menjadi target bullying tidak seharusnya diminta untuk melawan para pelaku bullying secara langsung. Justru, kita lah yang mesti mendorong mereka untuk mencari pertolongan dan dukungan dari teman atau orang dewasa,” kata Dr. Damour. Jika kamu menyaksikan temanmu di-bully, dekati mereka dan tawarkan dukungan. Tidak melakukan apapun bisa membuat temanmu merasa bahwa tidak ada yang peduli padanya. Kata-katamu bisa membuat perubahan. Dan ingatlah: Sekarang, dibanding masa-masa sebelumnya, adalah saat yang paling penting bagi kita untuk untuk lebih bijaksana dalam memutuskan apa yang akan kita bagikan atau katakana kepada orang lain. Sumber : KOMPAS.com

Anak & remaja selalu rentan mengalami gangguan kesehatan jiwa selama masa pandemi virus corona atau Covid-19. Pemerhati kesehatan jiwa anak dari UNICEF Ali Aulia Ramly mengatakan, salah satu dampak yang kerap dialami anak dan remaja yakni, muncul rasa takut yang berlebihan akibat banyaknya informasi yang diterima.

Selain itu, anak dan remaja cenderung merasa bosan berdiam diri di rumah dan tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya, akibat pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Tentu saja kebosanan terjadi ketika mereka harus berada di rumah dengan waktu yang sangat lama. Tidak bisa bertemu teman-temannya, ini merupakan sejumlah dampak yang wajar dan banyak terjadi pada anak,” ujar Aulia dalam diskusi di Graha BNPB, Jakarta.

“Kita harap begitu banyak anak akan bisa pulih dan melihat kembali bagaimana mereka tidak terganggu situasinya dalam keadaan ini,” tutur dia,

Persoalan lainnya, yakni kekerasan verbal yang dialami anak selama berada di rumah. Misalnya, sikap orang tua yang merendahkan kemampuan anak dalam belajar.

Kemudian, menerapkan pola pendisiplinan anak yang tidak tepat, seperti memberikan hukuman dan sanksi yang dianggap bagi sebagian orang tua justru akan membangkitkan semangat pada anak.

“Pada dasarnya jumlah kejadian kekerasan pada anak di Indonesia memang tinggi dan itu mengkhawatirkan,” kata Aulia.

Menurut Aulia, pemerintah memiliki peran penting dalam membantu masyarakat, orangtua maupun anak untuk mengatasi persoalan tersebut.

Namun ia menekankan, orang tua harus lebih dahulu memahami terkait cara penanganan yang tepat untuk anak-anak terhadap kesehatan mental remaja saat ini.

“Jangan lupa bahwa ketika kita ingin mendukung anak dan remaja, kita juga harus memperhatikan kesehatan jiwa orang tua, membantu mereka memahami diri sendiri, bisa memilih cara menangani, dan cara untuk mendapat pertolongan,” ujar Aulia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan, Fidiansjah mengatakan, selama ini pihaknya menangani isu kesehatan jiwa anak dan remaja dengan membuat regulasi.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga akan berkolaborasi dengan UNICEF terkait upaya menjaga imunitas.

“Imunitas penting dalam konteks Covid, jangan sampai kesehatan jiwa turun, kemudian mengganggu imunitas yang dibutuhkan,” tutur Fidiansyah.

Fidiansyah pun mengimbau agar masyarakat selalu mematuhi protokol kesehatan, menjaga kesehatan fisik dan jiwa dengan mengelola stres di tengah pandemi. Sumber: kompas.com

#Kesehatan Mental Remaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *